BREAKING NEWS

‎Diduga Dicampur Air, Pengadaan Biomassa Serbuk Gergaji Kayu untuk PLTU Banten 3 Lontar Disoal

SANTANG - berita kabupaten Tangerang , · 183 Dilihat



‎TANGERANG, LENSATANGERANG - Pengadaan serbuk gergaji kayu (sawdust) sebagai biomassa campuran bahan bakar di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Banten 3 Lontar dipersoalkan. Pasalnya, serbuk gergaji kayu itu diduga memiliki kandungan kadar air yang cukup tinggi.
‎Diketahui, PLTU Banten 3 Lontar telah menerapkan co-firing biomassa, yakni sistem pembakaran dua jenis bahan bakar yang berbeda secara bersamaan yaitu batubara dan serbuk gergaji kayu.
‎Hal ini mengacu Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 12 Tahun 2017 tentang penggunaan biomassa sebagai bahan bakar pada pembangkit tenaga listrik.
‎Mencuatnya dugaan sawdust dicampur air berdasarkan hasil investigasi LSM Perjuangan Ekonomi Rakyat Anti Korupsi Indonesia (PERAKI) Kabupaten Tangerang selama beberapa hari ini.
‎Ketua LSM PERAKI Kabupaten Tangerang, Wadi, mengatakan, awalnya dia mendapat kiriman foto dan video tentang aktifitas bongkar muat serbuk gergaji kayu. Dalam video terlihat beberapa pekerja sedang mengucurkan air melalui selang ke serbuk gergaji kayu curah dikombinasi dengan karung-karung yang juga berisi serbuk gergaji kayu.
‎Setelah ditelusuri, ternyata serbuk gergaji kayu itu akan dikirim ke PLTU Banten 3 Lontar yang berfungsi sebagai biomassa campuran batu bara untuk mengurangi polusi.
‎"Setelah kami investigasi di sebuah area transit truk di Desa Patramanggala Kecamatan Kemiri, sebelum truk mengirim serbuk gergaji kayu ke PLTU, sawdust yang diangkut diduga lebih dulu disiram air. Tujuannya mungkin agar saat ditimbang jadi lebih berat, sehingga pihak yang menyediakan serbuk gergaji itu mendapat keuntungan lebih besar," ujar Wadi.
‎Hal sama juga terlihat di area transit truk di Desa Pasilian Kecamatan Kronjo. Di kawasan yang berlokasi di pinggir jalan raya itu, terlihat jelas pekerja naik ke bak truk yang berisi serbuk gergaji kayu. Lalu tangannya memegang selang dan mengucurkan air ke karung-karung itu.
‎Air yang disiramkan ke truk tidak sampai menetes ke bawah bak alias tertahan di dalam bak truk. Setelah ditelusuri, ternyata bagian dasar bak truk itu telah dilapisi plastik sehingga air tidak sampai menetes keluar.
‎Atas praktik ini, satu truk yang biasanya hanya bisa mengangkut serbuk gergaji kayu seberat sekitar 4-5 ton, namun setelah disiram air, saat ditimbang beratnya melonjak antara 7-8 ton.
‎"Dengan praktik ini, kami menduga negara diduga dirugikan sangat besar sebab harus membayar cukup besar untuk pengadaan sawdust dari semestinya diterima," kata Wadi.
‎Untuk membuktikan semua ini, Wadi minta agar aparat penegak hukum turun tangan melakukan penyelidikan.
‎"Bisa jadi ini semata-mata ulah para pekerja supplier atau pekerja subkontraktornya, bisa jadi juga para pekerja menyiramkan air atas perintah supplier atau pekerja subkontraktor, tapi bisa jadi ini kerjasama antara oknum di PLTU dengan supplier, subkontraktor dan pekerja," kata Wadi.
‎*Polemik di Lingkaran Subkontraktor*
‎Di sisi lain, informasi yang berkembang, saat ini, antarsubkontraktor juga tengah berpolemik.
‎Seorang sumber media ini menyebutkan, PLTU Banten 3 Lontar saaat ini menunjuk PT ADC untuk pengadaan sawdust/serbuk gergaji.
‎Untuk melaksanakan pekerjaan ini, PT ADC mempekerjakan subkontraktor untuk melakukan pengadaan serbuk gergaji kayu yakni PT SML dan Kobantitar.
‎Namun di sisi lain, pihak PLTU Banten 3 Lontar juga menunjuk PT AMU untuk ikut melakukan pengadaan serbuk gergaji kayu untuk memenuhi kebutuhan biomassa di PLTU.
‎Dalam praktik di lapangan, tenaga kerja bongkar muat (TKBM) pihak PT SML dan Kobantitar dengan PT AMU justru terlibat ketegangan.
‎Sumber media ini menyebut, ketegangan terjadi saat PT AMU mengirim sawdust. Saat itu TKBM PT AMU diduga diancam oleh TKBM dari PT SML dan Kobantitar.
‎"Alasannya, untuk bongkar muat di dalam biar memakai tenaga kerja dari PT SML dan Kobantitar saja. Padahal, pihak PT AMU telah menyiapkan TKBM sendiri," ujar sumber yang enggan disebut namanya.
‎Ketegangan yang meruncing itu akhirnya berujung pada laporan Polisi. Pihak pekerja dari PT AMU inisial RS melaporkan pekerja dari PT SML dan Kobantitar inisial RL ke Polsek Mauk dengan tudingan melakukan pemaksaan dan atau pengancaman dengan kekerasan untuk tidak melakukan sesuatu. Saat ini, kasusnya sedang diselidiki oleh pihak Polsek Mauk.
‎"Kami menduga, kenapa pekerja PT AMU dilarang masuk, karena khawatir modus menambahkan air pada serbuk gergaji kayu yang dilakukan oknum tertentu terbongkar. Jadi kami menduga, pengadaan ini selain sarat dengan manipulasi juga kental nuansa monopoli," ungkapnya.
‎*Penjelasan PLTU*
‎Dikonfirmasi terpisah melalui ponsel, Humas PLTU Banten 3 Lontar Farid menjelaskan, ambang batas moisture atau kadar air pada serbuk gergaji (sawdust) biomassa yang diterima maksimal 45 persen.
‎"Jika serbuk gergaji yang dikirim melebihi moisture 45 persen, maka kami menolaknya. Pihak PLTU punya petugas pengawas khusus untuk mengukur moisture," ujarnya.
‎Saat ditanya adanya gudang transit truk pengangkut serbuk gergaji kayu di wilayah Desa Pasilian Kronjo dan Desa Patramanggala Kemiri untuk aktifitas penyiraman air, Farid mengaku tidak tahu. "Soal itu saya tidak tahu-menahu," ungkapnya.
‎Tim
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar

DUKUNG JURNALISME INDEPENDEN

Silakan berdonasi secara sukarela
sesuai kemampuan Anda.
Dukungan Anda membantu keberlangsungan LensaTangerang

KLIK UNTUK DONASI